Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak & Fenomena Fatherless
Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak dan Refleksi Fenomena Fatherless di Indonesia
Keluarga adalah rumah pertama bagi setiap manusia. Tempat anak belajar mengenal rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan diri. Namun, rumah hanya akan benar-benar menjadi tempat pulang ternyaman jika kehadiran kedua orang tua dirasakan secara utuh oleh anak—bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga emosional.
Dalam kehidupan sehari-hari, pengasuhan anak masih sering dilekatkan pada ibu. Sementara ayah kerap diposisikan sebatas pencari nafkah. Pola pikir ini tanpa disadari menciptakan jarak emosional antara ayah dan anak. Ayah hadir di rumah, tetapi tidak selalu hadir dalam kehidupan batin anak.
Fatherless: Ayah Ada, Tapi Tak Terasa
Istilah fatherless semakin sering dibicarakan dalam isu pengasuhan anak di Indonesia. Fatherless tidak selalu berarti anak tumbuh tanpa ayah secara fisik. Banyak anak yang tinggal bersama ayahnya, namun tidak merasakan kedekatan, keterlibatan, dan dukungan emosional dari sosok tersebut.
Psikolog asal Amerika, Edward Elmer Smith, mendefinisikan fatherless country sebagai kondisi ketika masyarakatnya cenderung tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Dampaknya tidak sederhana, karena dapat memengaruhi pembentukan karakter, kesehatan mental, hingga kepercayaan diri anak.
Anak Membutuhkan Ayah dan Ibu
Sejatinya, anak membutuhkan dua figur berbeda dalam hidupnya: ibu dan ayah. Ibu berperan penting dalam menanamkan empati, pengelolaan emosi, dan nilai-nilai kasih sayang. Sementara ayah berkontribusi dalam membangun logika berpikir, keberanian, kedisiplinan, dan kemandirian.
Kehadiran dua peran ini secara seimbang membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan adalah ayah yang memahami bahwa kehadiran tidak cukup sekadar berada di rumah, tetapi juga hadir secara emosional—mendengarkan, membersamai, dan terlibat dalam proses tumbuh kembang anak.
GATI dan Upaya Menguatkan Peran Ayah
Menyadari pentingnya keterlibatan ayah dalam keluarga, Kemendukbangga/BKKBN menghadirkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini mendorong ayah untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengasuhan anak dan pendampingan remaja.
GATI berupaya mengubah pola pikir lama bahwa pengasuhan adalah urusan ibu semata. Ayah didorong untuk hadir sebagai figur yang hangat, komunikatif, dan memiliki “rasa” dalam keluarga. Dengan keterlibatan ayah, jarak emosional dengan anak dapat dipersempit, sekaligus mencegah terjadinya kondisi fatherless.
Momen Sederhana yang Bermakna Besar
Keterlibatan ayah tidak harus diwujudkan melalui hal besar. Justru momen sederhana sering kali meninggalkan kesan mendalam bagi anak. Salah satunya adalah hari pertama masuk sekolah.
Melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang dicanangkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan/BKKBN, ayah diajak meluangkan waktu untuk mendampingi anak di momen penting tersebut. Kehadiran ayah memberi rasa aman, menumbuhkan keberanian, dan memperkuat kepercayaan diri anak saat memasuki lingkungan baru.
Bagi anak, diantar ayah ke sekolah bukan sekadar perjalanan singkat, melainkan pengalaman emosional yang akan dikenang dan memberi dampak jangka panjang.
Orang Tua Juga Terus Belajar
Menjadi orang tua bukan berarti kita sudah selesai belajar. Justru setiap hari adalah proses untuk bertumbuh bersama pasangan dan anak-anak. Memahami peran, memperbaiki pola komunikasi, dan belajar hadir dengan lebih utuh dalam keluarga.
Menjadi orang tua hebat memang tidak mudah, tetapi selalu bisa diupayakan. Setiap anak berhak memiliki orang tua yang bertanggung jawab atas kehadiran dan perannya. Dengan ayah dan ibu yang berjalan beriringan, anak-anak Indonesia dapat tumbuh bahagia dan kelak menjadi generasi penerus bangsa yang berharga.
Tulisan ini diolah dari artikel milik Tri Nurul Azizah yang diterbitkan di Buletin IPeKB Jawa Tengah Edisi 6 Tahun 2025, dengan penyuntingan dan penyesuaian konteks.
