E-Visum 4.0 Sudah Siapkah Kita?

Pada 1980-an, Alvin Toffler, seorang futurolog meramalkan tentang peradaban manusia pada gelombang ketiga dalam bukunya “The Third Wave”. Toffler meyakini bahwa peradaban manusia pada gelombang ketiga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang masif yang akan mengubah ruang, jarak, dan waktu. Semesta seakan tiada berbatas. Dunia bisa berada dalam satu genggaman hanya dengan sekali ‘klik’.

Prediksi Tofler hampir semuanya tepat. Saat ini kita berada di era disrupsi. Kita bergaul dengan seimbang antara dunia nyata dan dunia virtual. Bumi telah menjadi apa yang diistilahkan McLuhan sebagai global village. Sehingga beradaptasi dengan teknologi bisa jadi adalah satu-satunya cara agar tidak tergilas roda jaman.

Adaptasi membutuhkan daya dan upaya. Dalam ranah pekerjaan kita selaku Penyuluh KB pun demikian. Pada awal berdirinya, BKKBN diperkuat dengan optimalisasi kunjungan rumah dan konseling PUS. Sedangkan saat ini BKKBN memperkuat pelaksanaan program dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai aplikasi yang mendukung pekerjaan selaku Penyuluh KB terpasang di ponsel kita. Berbagai platform media sosial dibuat sebagai jembatan komunikasi dengan masyarakat dan mitra kerja. Dan bahkan untuk mendukung pelaporan kegiatan, sudah semakin paperless dengan format laporan daring.

Yang terbaru, kita bahkan sudah dipersiapkan untuk menjajal aplikasi E-Visum generasi 4. Pengembangan aplikasi E-Visum 4.0 adalah untuk mengakomodir keseluruhan butir kegiatan PKB berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan) Nomor 21 Tahun 2018 dan rencana penyederhanaan butir-butir kegiatan PKB/PLKB. Aplikasi ini memiliki fitur kinerja, kegiatan, wilayah binaan, presensi/cuti, dan berbagai fitur lainnya untuk memudahkan pelaksanaan kerja penyuluh keluarga berencana di lapangan.

Sebuah aplikasi dibuat tentunya dengan harapan untuk memberikan kemudahan. E-Visum 4.0 dihadirkan untuk memfasilitasi kinerja PKB/PLKB. Harapannya, PKB/PLKB tidak lagi disibukkan dengan dokumen-dokumen, termasuk usulan angka kredit, melainkan sibuk bekerja untuk melayani masyarakat dalam kerangka program Bangga Kencana.

Sudah siapkah kita?

Sebuah perubahan, pasti akan terasa sulit di awal. Kita membutuhkan tekad untuk beradaptasi. Konon perubahan diibaratkan seperti steamroller atau jogjig. Kita bisa memilih menjadi roda yang berputar ataukah bagian jalan yang terlindas. Salam semangat!

Arum Fitria Ardiyani – Penyuluh KB Purbalingga (Pemimpin Redaksi Buletin IPeKB Jawa Tengah)

Leave a Reply